AIR MATA TUA
(Motinggo Boesye)
Penjaga
kuburan mendekatinya dan bertanya:”Kenapa Nenek menangis?”Diangkatnya kepalanya
pelan-pelan, dipandangnya penjaga kuburan itu agak lama, dan suaranya yang
gemetar dan tua itu berkata:”Kalaulah cucuku dapat bertanya seperti engkau
itu.” Dia berhenti sebentar, dihapusnya air matanya. “Engkau sendiri bekerja di
sini?” tanyanya kemudian.
“Ya”.
“Sepantasnya
engkau masuk surga, Nak”.
Kemudian
penjaga kuburan itu duduk di semen kuburan itu dan nenekitu berkata:
“Kuburan-kuburan di sini bersih. Kalau nanti saya dikuburkan di sini, kau
bersihkanlah kuburanku itu baik-baik, Nak.”
“Benar,
saya masih akan lama hidup?”
“Benar,
Nek” dan penjaga kuburan itu sambil mempermainkan lidi sapunya dan berkata
lagi: “Nenek masih kuat. Nenek saya lihat berjalan kesini tidak pakai tongkat
dan masih kuat.”
“Kalaulah
cucuku bisa menghibur saya macam kamu,” kata perempuan tua itu sambil menghapus
air matanya yang pelan-pelan berjalan dari pinggir matanya menuju pipi.
“Cucuku
ada lima orang, Nak. Tak seorang pun yang menanyakan kesehatanku, apalagi
kesedihanku. Kalau mereka memberiku makan, bukan mereka yang mengatakan, ‘Makanlah,
Nek’, tapi si babu, cuma si babu yang mengatakan itu. Si babu mengaji kalau
saya sudah mengantuk,” perempuantua itu menangis lagi.
“Pagi
ini si babu membersihkan ladang. Ladang itu sebenarnya adalah ladangku, tapi
cucu-cucuku menganggap ladang itu ladang mereka. Pada waktu musim memetik jeruk,
saya cuma bisa makan tiga buah jeruknya saja. Itu pun bukan yang manis-manis.”
“Di
mana Nenek tinggal?”
“Di
dapur, bersama si babu.”
“Di
dapur?”
“Ya,
di dapur, bersama-sama si babu. Kalau pagi saya kedinginan.”
Tangan
tua nenek yang tua itu menepuk-nepuk semen kuburan itu. “Ini kuburan Adam. Adam
adalah suamiku,” katanya.
“Sudah
lama suami nenek meninggal dunia?”
“Baru
sepuluh tahun ini. Waktu Adam masih hidup, sama-sama kami mandi di sumur. Adam
yang menimbakan air untukku. Saya ingin lekas-lekas mati saja. Sepuluh tahun
lamanya saya disiksa oleh cucu-cucuku itu.Mula-mula saya tidur di kamar depan.
Lalu, ketika cucuku yang tertua kawin, saya dipindahkan ke kamar tengah. Ia
kawin dan beranak, dan saya dipindahkan lagi ke kamar belakang. Dan sekarang, saya
menempati dapurbersama-sama si babu. Kalau pagi saya merasa dingin. Si babu
juga mengaji kalau subuh,” dan dibetulkannya kerudungnya, lalu berkata: “Si
babu pintar sekali mengaji.”
Lalu
nenek tua itu berkata lagi:”Musim memetik jeruk yang lalu,saya cuma dapat tiga
jeruk, itu pun yang masam-masam.”
“Yang
masam-masam? Yang manis-manis untuk mereka?”Kini pandangannya dengan matanya
yang tua itu berputar ke arah kuburan-kuburan sekeliling.
“He!”
gemetar ia tiba-tiba. “Tanah pekuburan ini sudah penuh semuanya. Di mana nanti
saya akan dikuburkan?”
“Masih
ada sedikit, di sana,” kata penjaga kuburan itu.
“Sedikit?”
“Ya,
sedikit.”
“Masih
banyak lagikah yang akan mati, Nak?” tanyanya dengan gelisah, dan kemudian
bertanya lagi: Di mana nanti saya akan dikuburkan?”
“Kenapa
nenek sampai berkata begitu?” tanya penjaga kuburan itu dengan cemas pula.
“Saya
sudah tua dan bukankah sebentar lagi mati? Di mana saya akan dikuburkan? Saya
tidak bisa mengumpulkan uang lagi sejak cucu-cucuku tidak membagikan hasil penjualan
buah-buahan ladangku. Ladang buah-buahan itu sayalah yang punya. Padahal Adam
yang membeli semua itu,ketika kami baru kawin dan ketika itu saya tidak tua
berkerinyut seperti ini.Pohon-pohon jeruk itu Adam yang nanam. Tapi cucu-cucuku
Cuma memberiku tiga buah jeruk saja, itu pun bukan yang manis-manis.”
Dia
menangis tersedu-sedu dan berkata: “cuma ini uang simpananku.Kamu hitunglah,
Nak. Cukupkah buat beli tanah kuburan?”Tangan tuanya meraba-raba stagennya dan
memberikan uang yang terlipat baik-baik itu kepada penjaga kuburan itu.
Penjaga
kuburan itu menghitung-hitung dan kemudian tertawa.“Kenapa kamu tertawa, Nak?
Apa tidak cukup? tanyanya.“Yang tiga lembar ini sudah tidak laku lagi,” jawab
penjaga kuburan.
“Tidak
laku? Itu adalah uang pensiun Adam yang kusimpan baik-baik.Kenapa tidak laku
lagi? Apa uang palsu? Tidak mungkin!”
“Uang
ini sudah lama dinyatakan tidak berlaku lagi, Nek,” sahut penjaga kuburan.
“Kenapa?”
Penjaga
kuburan itu tak bisa menjawab.
“Tidak
cukupkah membeli tanah kuburan dengan uang yang laku saja itu?” tanya nenek tua
itu tiba-tiba. Lalu dipandangnya tanah kuburan sekeliling, dan dia berkata
lagi: “Sudah penuh semua. Saya, musti membeli yang sedikit itu. Saya tidak
punya harta dan uang lagi selain itu. Tidak cukupkah uang itu, Nak?”
“Belum
cukup, Nek.”
“Belum
cukup? Bagaimana akalku? Saya takkan minta pada cucu-cucuku itu, karena mereka
pun pasti tak mau memberi. Mereka cuma mau mengambil kepunyaanku, sampai
jeruk-jerukku pun diambilnya.”
Kini
penjaga kuburan itu melihat perempuan tua itu merundukkan kepalanyadan
tiba-tiba dilihatnya seuntai kalung emas berayun-ayun di leher perempuan tua
itu.
“Nenek
masih punya harta. Jangan kuatir! Semua itu bisa dibelikan tanah kosong yang
enam meter persegi,” kata penjaga kubur.
“Saya
tidak punya apa-apa lagi kecuali uang itu dan yang tiga lembaryang tidak laku
itu.”
“Nenek
masih punya kalung ringgitan emas.”
Perempuan
tua itu terkejut dan tangan tua meraba ringgit yang tergantung di lehernya.
“Ini? Oh, ini pemberian Adam waktu kami kawin dulu.”
“Kalau
nenek mau benar-benar membeli tanah pekuburan, jual sajalah,Nek, kalung emas
itu.”
“Dijual?”
suaranya gemetar lebih hebat. “Apa saya mau dikutuk oleh almarhum suamiku?”
Penjaga
itu terdiam, tapi tetap dipandangnya nenek tua itu dengan pandangan yang
bersungguh-sungguh. Perempuan tua itu memandang kesekeliling lagi. Tanah-tanah
pekuburan di sekitarnya ditangkapnya dengan pandangan matanya yang tua, dengan
linu.
“Emas
tidak dibawa mati, ya, ya, emas tidak tidak dibawa mati. Saya ingin dikubur di
kuburan Adam. Ya, ya saya harus membeli tanah itu. Emas memang tidak dibawa
mati, Nak.”
Sejak
dia keluar dari gerbang pekuburan, air matanya semakin kering.Dan, sejak itu
pula, setiap akan tidur sambil mendengar si babu mengaji terbayang dalam
angan-angannya yang tua sebuah pekuburan yang bersihdi mana ia tidur baik-baik
di bawah permukaannya, di mana rohnya akan bertemu dengan roh Adam, suaminya
yang tercinta.Dia telah membeli tanah itu! Dia seakan-akan telah membeli harga yang
terakhir dari masa hidupnya. Setiap malam dia berdoa dan mohon kepada Tuhan
agar saat itu pun tiba baginya.
Suatu
malam ketika dia penuh dengan angan-angan, terdengar pintu dapur diketuk orang.
Siapa yang mengetuk pintu, malam-malam begini?Apa si babu sudah tidur?
“Babu,
bangunlah. Ada orang mengetuk pintu kita.”Si babu tersentak. Ketika itu
kepalanya di atas kitab suci. Matanya sama menatap pintu itu dengan segala
kecemasan dan sekali-kali ia melihat kepada nenek tua yang sedang terbujur
tidur.
“Kaukira
itu maling? Jangan takut, Babu. Kalau itu maling, apa yang akan mereka ambil di
dapur ini?”
“Bukan
maling, Nek,” kata si babu, lalu berdiri dan kemudian membukakan pintu. Seorang
lelaki berdiri di pintu.
“Siapa
itu, Babu?”
“Rakhman,
Nek.”
“Rakhman,
cucuku? Kenapa kau datang malam-malam begini, ke sini? Biasanya tidak pernah”.
“Nenek
harus pindah, malam ini juga, Nek,” kata lelaki itu. Nenek itu mencoba sekuat
tenaga membangunkan dirinya.
“Pindah?
Kemana lagi kalian akan lemparkan diriku sekarang?”Lelaki itu berjongkok.
“Dokter menyuruh pindah,” katanya.
“Dokter”
“Ya,
dokter!”
“Apa
hak dokter, makanya ia mau lemparkan diriku! Bukankah rumah ini pembelian
Adam?”
“Ada
wabah kolera. anak-anak diserang kolera.”
Kemudian
masuk lagi seorang lelaki. Dialah dokter itu. Dan dokter kemudian menjelaskan
kepada nenek tua itu agar pindah ke rumah sakit untuk menghindarkan penularan
penyakit kolera.
“Baiklah,
baiklah anak muda. Tapi biar pun di mana saja kalian lemparkan saya, saya kan
akan mati juga,” katanya. “Tapi jangan pisahkan saya dari si babu,” katanya
lagi.
Namun,
dia tetap dipisahkan dari si babu. Kalau malam dia merasa sunyi sekali, tidak
didengarnya suara orang mengaji. Yang didengarnyaadalah suara orang-orang-orang
yang merintih-rintih, bermimpi, mengigau,dan bau-bau yang tidak enak bagi
hidungnya yang telah tua dan keriput itu.Setiap juru rawat masuk ke kamarnya
nenek itu selalu bertanya, kapan diaboleh keluar?
Suatu
saat seorang juru rawat membisikkan di telinganya dengan suara hati-hati bahwa
semua cucunya dan si babu telah meninggal dunia“Si babu juga?” tanyanya cemas.
“Ya.
Dia juga meninggal dunia.”
“Oh,
dengan siapa lagi saya akan tinggal?” tanyanya sedih.
“Dengan
kami.”
Sore
itu seorang juru rawat mengantarnya ke pekuburan, di mana cucu-cucunya
seluruhnya dikuburkan dan juga di mana si babu ikut tertimbun dengan
tanah-tanah itu. Perempuan tua itu menangis tersedu-sedu hingga juru rawat itu
payah sekali membujuknya untuk pulang.Kini, perempuan tua itu dengan matanya
yang tua itu mencoba melihat ke sekeliling, dan dengan pandangan tuanya ia
tidak melihat setumpak pun tanah yang kosong.
“Sudahlah,
Nek. Jangan menangis lagi. Mari pulang,” ajak perempuan muda itu.
Perempuan
tua itu menjawab: “Saya sedih sekali, Nak.”
“Kenapa?
Bukankah mereka sudah selamat dikuburkan?”
“Bukan
itu. Bukan itu. Saya sedih di mana saya akan dikuburkan nanti? Semua tanah itu
sudah penuh. Saya sudah menjual ringgit emaspemberian suamiku, dan telah kubeli
tanah ini untuk kuburan saya, tapi sekarang mereka yang memakai tanah ini buat
kuburan mereka.”
“Di
mana lagi, coba, tanah untuk saya?” sambung si nenek itu. “Semua sudah terisi.
Waktu hidupnya, mereka cuma memberiku tiga buah jeruk, itupun jeruk-jerukku,
dan waktu mati.”
“Sudahlah,
Nek, mari kita pulang.”
“Saya
tidak akan pulang.”
Dan
perempuan tua itu dengan tersedu-sedu berkatalah lagi:”Cobalah kaupikir, Nak,
di mana saya akan dikuburkan. Tanah-tanah di sini semua sudah terisi!”
Dan
perempuan muda itu tidak dapat menjawabnya.Dan perempuan tua itu melihat dengan
mata tuanya lagi, ke sekeliling.Dan pandang tuanya yang sudah layu itu tidak
menangkap lagi setumpakpun tanah yang kosong.Ketika itulah air matanya berjalan
pelan-pelan, dari pinggir pelupuk matanya ke daging-daging pipinya, seperti
seorang tua berjalan pelan-pelandi pinggir tebing menuruni sebuah lembah.






0 komentar:
Posting Komentar